Gejolak kurs mata uang Asia bukan krisis moneter

Meski mata uang rupee jatuh, Perdana Menteri India Manmohan Singh mengatakan bahwa negara-negara ekonomi baru sekarang memiliki kelengkapan yang lebih baik sehingga tidak akan jatuh pada krisis moneter seperti pada 1990an.(Foto AP)

(WIN): Para analis keuangan dunia mengatakan Asia tidak sedang mengulangi krisis moneter seperti yang terjadi pada era 1990-an, meski kondisi saat ini memiliki kecenderungan negatif dengan mengacu pada realita kejatuhan sejumlah kurs mata uang khususnya yang berada di kawasan Asia.

Seperti diketahui bahwa peristiwa jatuhnya mata uang di negara-negara ekonomi baru Asia menyusul prospek stimulus keuangan di Amerika telah mengembalikan ingatan pada krisis finansial Asia pada 1997, namun para analis ragu kemelut yang sama akan terjadi. Hal ini menjadi pembahasan khusus dalam laporan Voice Of America yang dikutip Whatindonews.com pada Senin (26/8/13).

“Ada hubungan-hubungan negatif sekarang ini namun saya kira kita tidak sedang akan mengulang krisis 1990an,” ujar Jean Medecin, anggota komite investasi pada perusahaan manajemen aset Carmignac Gestion yang berbasis di Perancis.

Meski demikian, mata uang rupee di India sejauh ini terpukul paling parah, turun hampir 15% terhadap dolar Amerika dalam tiga bulan terakhir, rupiah di Indonesia dan real di Brazil turun 10%, dan lira di Turki lebih dari 5%, merupakan pengingat krisis yang mulai di Thailand pada pertengahan 1997.

Pada saat itu, para investor bereaksi secara panik, menarik dana secara massal, menyebabkan mata uang bath di Thailand akhirnya jatuh. Fenomena ini menyebar seperti kebakaran liar di seluruh Asia, dan bahkan ke Rusia, dengan modal asing menghilang hampir sekejap mata.

Kekurangan modal, negara-negara ekonomi baru mengalami langkanya kredit secara akut, menjatuhkan mereka lebih dalam kepada krisis. Pada 15 tahun berlalu, Perdana Menteri India Manmohan Singh mengatakan minggu lalu bahwa negara-negara ekonomi baru sekarang memiliki kelengkapan yang lebih baik.

Pada 1991, India hanya memiliki cadangan mata uang asing untuk 15 hari, ujarnya. “Sekarang cadangan kita mencakup enam sampai tujuh bulan. Jadi ini tidak bisa dibandingkan. Tidak seharusnya ada pertanyaan bahwa kita akan kembali ke krisis 1991,” ujarnya.

Minggu ini, ekonom pemenang Hadiah Nobel, Paul Krugman, menulis di blog New York Times bahwa jika dilihat lagi pada 1990-an, aliran uang ke pasar-pasar baru terlihat seperti gelembung. Namun Krugman mengatakan untuk saat ini, saya tidak melihat ada alasan kuat untuk meyakini bahwa pemecahan gelembung ini akan membahayakan.

Sementara itu Badan pemeringkat Standard & Poor’s setuju. Dalam sebuah laporan, lembaga tersebut menyebut aliran modal keluar mengganggu tapi tidak menghancurkan, dan mengatakan bahwa sebagian besar negara berkembang di Asia akan mengatasi gangguan ini tanpa perlambatan tajam dalam hal pertumbuhan ekonomi atau ketidakstabilan finansial dalam waktu yang lama.

Krugman mengatakan apa yang membuat krisis Asia 1997-8 sangat buruk adalah karena tingkat utang denominasi mata uang asing yang tinggi, dan sepertinya hal itu kurang menjadi isu saat ini.

Ryan Avent dari majalah The Economist menulis di blognya bahwa kekhawatiran yang lebih besar adalah kesalahan kebijakan potensial dari pemerintah dan bank sentral karena mereka berusaha menghalangi kejatuhan mata uang mereka. “Kontrol modal yang diberlakukan secara sembrono dapat mendorong kepanikan dan mencelakakan pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya.

Bank sentral India telah mencoba menstabilisasi rupee selama berbulan-bulan dengan langkah-langkah seperti meningkatkan suku bunga jangka pendek dan mengontrol kapital. “Lebih buruk lagi, bank-bank sentral bisa mencekik ekonomi mereka dengan tingkat suku bunga yang tinggi untuk melindungi nilai mata uang mereka,” ujar Avent.

Untuk itu, penghentian stimulus keuangan AS berisiko menekan permintaan di seluruh dunia ketika tujuannya adalah untuk meningkatkannya di negara-negara kaya.

Badan pemeringkat Fitch mengatakan bahwa pengelolaan kebijakan akan menjadi faktor kunci dalam menentukan apakah stabilitas ekonomi dan finansial dipertahankan di India dan Indonesia menyusul tekanan-tekanan yang meningkat terhadap mata uang dan harga-harga aset. Namun sejauh ini, bank-bank sentral sepertinya lebih menyukai menaikkan suku bunga jangka pendek dibandingkan suku bunga utama, yang akan memperlambat investasi, konsumsi dan pertumbuhan.

Turki mengambil langkah itu minggu ini, menaikkan suku bunga overnight dan menutup suku bunga jangka pendek lain untuk meredam spekulasi terhadap lira, sementara mempertahankan batas atas.

Sejumlah kalangan malah mengambil kebijakan untuk membiarkan kurs mata uang mengalami penurunan. Situasi terbaru ini merupakan fenomena penyelarasan yang menyakitkan untuk negara-negara ekonomi baru, menurut ahli strategi Maarten-Jan Bakkum dari Bank Belanda ING IM. “Setelah bertahun-tahun menaikkan mata uang, ekonomi-ekonomi baru sekarang menghadapi masalah-masalah struktural. Karena tidak ada obat untuk masalah ini, mereka mengoreksinya lewat kurs-kurs mata uang,” ujarnya.

Simon Derrick, kepala strategi mata uang pada BNY Mellon mengatakan bahwa membiarkan mata uang menghadapi tekanan merupakan langkah terbaik untuk beberapa negara ekonomi baru.

Dia mencatat bahwa pada 2008, ketika pasar-pasar baru mencoba menghentikan aliran dana keluar, mereka gagal meski menghabiskan sampai 20 persen cadangan mata uang asing mereka. Derrick mengatakan bahwa intervensi mata uang asing bank sentral di tengah masuknya aliran uang hanya akan memberi para investor kurs mata uang rendah artifisial untuk memasuki pasar. Meski demikian, beberapa negara telah bergerak untuk melindungi mata uang mereka.

Brazil, yang memimpin keluhan negara-negara ekonomi baru bahwa langkah stimulus di Barat telah mengakibatkan apresiasi mata uang mereka dan menggerogoti daya saing, telah berbalik dengan mengatakan bahwa US$55 miliar telah tersedia untuk mendongkrak mata uang real.

Turki berjanji menyuntikkan minimal US$100 juta per hari, sementara India mengumumkan akan menaruh US$1,26 miliar ke dalam sistem perbankan dengan membeli kembali obligasi pemerintah jangka panjang, meski mengatakan bahwa langkah itu bertujuan membuat lebih banyak kredit tersedia untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi daripada melindungi rupee.

Keluarnya aliran investasi membuat Turki dan India menghadapi risiko segera karena mereka sangat bergantung pada dana-dana asing jangka pendek untuk menutupi defisit saldo yang besar (6,5% PDB untuk Turki dan 4,8% untuk India). “Perlambatan pertumbuhan yang dialami di pasar-pasar tersebut telah memaksa investor untuk melihat lebih hati-hati ke dalam problem-problem struktural yang dihadapi oleh ekonomi-ekonomi baru tersebut, terutama di Brazil dan India, seiring melambatnya pertumbuhan dan meningkatnya inflasi,” ujar Michael Hewson dari CMC Markets.

Tingkat pertumbuhan di India jatuh ke tingkat terbawah dalam satu dekade yaitu 5% sampai Maret 2013, dengan tingkat inflasi 5,8% saat ini. Barazil menghadapi 2,5% pertumbuhan tahun ini dengan 6,3% inflasi. (win7)

Komentar