Arum Sabil, petani handal

(WIN): - Arum Sabil mengawali karirnya sebagai buruh tani - kini duduk sejajar bersama sejumlah menteri di dalam Dewan Gula Indonesia/DGI, diantaranya Menteri Keuangan, Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, tiga orang Dirjen di tiga Kementrian (Keuangan, Perdagangan, Perindustrian) dan satu orang Deputi dari Kementrian BUMN.

Arum duduk di DGI lantaran dirinya sukses sebagai petani tebu dan menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI).  %u201CSaya akan terus belajar dan tidak akan pernah berhenti belajar,%u201D kata Arum yang memiliki nama lengkap Muhammad Arum Sabil ini.

Terus melejitnya nama Arum Sabil di sektor pergulaan nasional bukan hanya menjadi kebanggaan keluarga, tapi juga semua stake-holer pergulaan nasional. Sebab, di-hampir setiap ada persoalan deangan gula, sosok muda ini selalu memenuhi ruang media massa %u2013 khususmya televisi, baik sebagai nara sumber berita, dialog, bahkan tidak jarang tampil sebagai pemimpin aksi demonstrasi -  di Jakarta maupun di  Surabaya.

%u201CSepanjang persoalan (pergulaan) bisa diselesaikan secara baik-baik, kami pantang melakukan demo. Tapi ketika dialog menemui jalan buntu, apalagi itu sengaja  dikondisikan oleh pihak yang tidak pro-petani, terpaksa saya memimpin demo petani,%u201D kata putra  pasangan Rokib dan Sariati ini.

Posisi petani, menurut Arum, sering direpotkan dan nyaris tidak ada ruang untuk berekspresi. %u201CKetika saya dan teman-teman petani tebu memakai dasi menemui Anggota DPR, atau Menteri, disangka kita bukan petani. Ketika kami memakai sandal jepit justru dituding tidak sopan. Tapi kami tidak perduli, yang penting terus berjuang. Karena sejak kecil saya terbiasa keras dan bekerja keras. Apa yang saya miliki hari ini hasil kerja keras, juga melalui tempaan yang keras,%u201D katanya.

Arum kecil - sepulang sekolah SD - banyak menghabiskan waktunya di pematang sawah membantu orang-tuanya sebagai buruh tani, terkadang %u2018leles%u2019 (dalam bahasa Madura %u2018ngasak)%u2019 yang berarti memulung sisa-sisa gabah setelah dipanen pemiliknya. Namun dia tetap tumbuh sebagai anak pintar karena disela-sela itu Arum selalu memegang buku dan tekun belajar.

Kebiasaan ini terus dibawanya hingga remaja, dimana ketika SMA mulai mencoba menjadi tukang foto keliling. Ilmu memotret diperoleh secara otodidak. Profesi tukang foto ini sempat mengubah kondisi ekonominya menjadi lebih baik. Namun cita-cita ingin menjadi Sinder Perkebunan (ADM) terus menggelora dalam hatinya. Sehingga setamat SMA, Arum bekerja di salah satu PTPN dengan posisi sebagai pengamat hama penyakit tanaman. Setelah setahun di PTPN itu, Arum mudur dan merantau ke Kalimantan - juga bekerja di perusahaan perkebunan (1990-1992). Pada akhir 1992, Arum memutuskan pulang  ke Jember menekuni pekerjaan sebagai petani. Kali ini pertanian tebu.

Arum memulai usaha tani tebu di lahan seluas 0,5 hektare. Berkat kegigihannya, ditambah pengalaman bekerja di PTPN dan dua perusahaan perkebunan di Kalimantan, Arum muda terus meraih kemajuan dan tumbuh menjadi petani tebu dengan kepemilikan lahan yang luas. Namun, dalam perjalanannya Arum merasakan betapa posisi petani tebu sering diperlakukan tidak adil. Pola hubungannya dengan pabrik gula (PG)) bukan dalam kerangka kemitraan, tetapi bersifat subordinat. Belum lagi efek kebijakan pemerintah yang sering tidak konsisten.

Rangkaian itu telah menghantarkan kesadaran Arum bahwa memperjuangkan aspirasi petani tebu harus dilakukan secara masif-kolektif.  Maka, bersama sejumlah tokoh petani tebu lainnya, pada 1997 membentuk tim petani tebu dan pada 1998 terbentuk Paguyuban Petani Tebu Rakyat (PPTR) di wilayah PG Semboro, Jember. Saat itu Arum menjadi salah satu anggotanya.

Ketua APTRI

Pembentukan PPTR itu mengundang apresiasi dari Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur dan petani juga disarankan membentuk Asosiasi Petani tebu Rakyat Indonesia (APTRI).  Maka terpilihlah Arum sebagai Ketua APTRI. Usaha itu dilakukan untuk membangun kesetaraan antara petani  dengan PG. Namun demikian, persoalan yang meliputi petani tebu masih saja ada dan memaksa Arum selalu muncul sebagai pemimpin gerakan - sehingga namanya terus berkibar dan semakin populer.

Di bawah nahkoda Arum, APTRI berhasil diwujudkan sebagai sebuah kekuatan yang mampu memberi tekanan kepada pemerintah agar mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada petani. Hasilnya, lahirlah SK Menperindag No 643 Tahun 2002 mengenai tata niaga gula impor %u2013 yang disempurnakan dalam SK Menperindag No.527 Tahun 2004, serta terbitnya SK Menperindag No. 61 Tahun 2004 mengenai pelarangan perdagangan gula antarpulau, SK Gubernur Jatim mengenai pelarangan pembongkaran gula impor di wilayah perairan Jatim, dan adanya skim dana talangan petani tebu, serta sejumlah kebijakan pro-petani lainnya. Sehingga tidak berlebihan jika sosok muda ini sering dicap sebagai simbol perlawanan petani terhadap situasi apapun yang tidak pro-petani.

Popularitas dan jangkauan akses yang dimiliki Arum semakin luas dari waktu ke waktu. Mulai dari kalangan swasta, legislatif, dan eksekutif skala regional maupun nasional. Sehingga tidak berlebihan ketika sederet tokoh nasional berkunjung ke rumah Arum di kecamatan Tanggul %u2013 kabupaten Jember, atau setidaknya hadir di acara yang digagas oleh Arum Sabil. Mereka diantaranya Amien Rais, Gus Dur, Megawatie Soekarnoputrie, Soesilo Bambang Yudoyono (SBY), Jusuf Kalla, serta sederet nama menteri, mantan menteri dan pejabat lainnya.

Arum tetap teguh dan concern dibidang pertanian %u2013 meski sebenarnya banyak sektor usaha non pertanian yang bisa digarap tangan dinginnya.  Namun dia tetap memilih di jalur pertanian. Selain tebu, misalnya, Arum juga mengelola perkebunan hortikultura, tanaman pangan, peternakan ayam, dan peternakan sapi susu perah. Bahkan sebagian usahanya kini sudah mengarah ke industri hasil pertanian (agroindustri).

Meski sudah punya nama, Arum tidak serta-merta masuk ke lembaga non-pertanian, apalagi ke partai politik - meski banyak yang menawarinya jabatan penting.  Arum hanya memilih wadah yang bisa mengekspresikan jatidirinya sebagai petani dan memperjuangkan kepentingan petani. %u201CSaya hanya akan bergabung dengan lembaga-lembaga terkait pertanian. Sektor pertanian harus diperjuangkan secara terus-menerus agar kedepan bisa menjadi backbone perekonomian nasional,%u201D katanya.

Maka itu, pria yang selalu nampak trendy ini tercatat sebagai Bendahara Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP NU) PBNU dan salah satu Ketua di Dewan Pimpinan Nasional (DPN) HKTI pimpinan Prabowo Subijanto.  Juga tercatat sebagai Sekjen dari Asosiasi Petani Padi Palawija Indonesia (AP3I) pimpinan Rini Mariani Soemarmo (mantan Menperindag yang dulu lebih dikenal dengan sapaan Rini Soewandi). %u201CSaya selalu bilang sama teman-teman di LPP NU, HKTI dan AP3I, bahwa kita harus selalu hadir saat petani membutuhkan. Jangan hanya muncul saat musim-musim politik tiba.%u201D

Menurut Arum, masih banyak persoalan terkait pertanian nasional yang mesti diperjuangkan. Di sektor pergulaan, misalnya, banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro-petani dan bahkan tidak pro-penguatan perekonomian dalam negeri.  Seperti rencana Menteri Perdagangan membebaskan peredaran gula rafinasi yang berasal dari gula mentah impor, dan rencana menteri perdagangan merevisi SK Menteri Perdagangan No 527/ MPP/Kep/9/2004.

%u201CKami menolak semua rencana kebijakan itu. Karena SK Memperindag No.527/MPP/Kep/9/2004 ini telah banyak menguntungkan petani, dan berkat SK ini dalam kurun waktu lima tahun dari 2003 - 2008 telah terjadi peningkatan produksi gula nasional mencapai 1,1 juta ton. Maka itu kami akan melawan jika SK itu direvisi,%u201D tegasnya.

Arum berjanji akan terus mengawal industri pertanian dalam negeri, khususnya komoditas gula. %u201CHukum dan peraturan harus ditegakkan. Para pengedar dan pemilik pabrik rafinasi yang terbukti mendistribusikan gula harus ditangkap dan diberi sanksi, karena melanggar peraturan. Begitu juga pejabat yang mengeluarkan izin impor serta pejabat yang memberikan fasilitas keringganan/pembebasan tarif masuk gula mentah impor. Patut diduga selama ini telah terjadi konspirasi memanipulasi izin impor dan tarif bea masuk gula impor yang berpotensi merugikan negara Rp 1,7 triliun,%u201D kata Arum.

APTRI, kata Arum, meminta pemerintah segera menerapkan daftar negative investasi (DNI) terhadap pendirian industri gula rafinasi. Serta mendesak agar izin impor gula harus berdasarkan kuota kebutuhan dalam negeri, bukan berdasarkan kapasitas terpasang. Agar Indonesia tidak dibanjiri gula impor yang akhirnya berdampak kepada kebangkrutan petani tebu dan industri gula nasional. %u201DJika dibiarkan, ini akan membuat fatal perekonomian nasional karena kita akan masuk perangkap sindikasi gula impor. Aparat penegak hukum harus merespon aktif masalah ini. Jika tidak kami sendiri yanag akan melakukan swiping terhadap peredaran gula rafinasi, %u201D tegas Arum.

Arum juga berjanji, melalui APTRI dan Dewan Gula Indonesia, akan terus memperjuangkan nasib petani tebu - agar gula tetap menjadi komuditas agrobisnis yang ideal, serta mendorong terciptanya sistem pergulaan nasional yang proporsional, efektif dan efisien. DGI yang dibentuk melalui Keppres No. 28 tahun 1982 dan beberapa kali mengalami penyempurnaan, kata Arum, harus tetap jeli dan kritis dalam tugasnya memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden RI %u2013 sehingga rumusan kebijakan bidang pergulaan menjadi benar.

Arum Sabil yang malang-melintang di dunia pertanian dan berjuang di pergulaan nasional ini sudah menyempatkan diri menulis sebuah buku berjudul %u201CMendobrak Belenggu Petani Tebu%u201D.  Dalam buku setebal 480 halaman itu, Arum dengan dibantu sejumlah editor senior memaparkan secara rinci perkembangan pergulaan nasional sejak jaman Belanda hingga kiprah dan perjuangan APTRI di bawah komandonya - dalam menghasilkan sejumlah kebijakan yang pro-petani.

Pada sampul belakang luar buku berwarna hitam dan keemasan itu tertulis kata-kata yang merupakan statemen Arum Sabil:  %u201CDemonstrasi bukan tujuan kami. Razia gula selundupan juga bukan tugas kami. Pekerjaan kami hanya menanam dan merawat tebu, serta mencegahnya dari hama. Namun hama itu kini telah berubah dalam bentuk penyelundup gula ilegal, juga dalam bentuk pembuat kebijakan yang tidak pro-petani, juga aparat yang tidak tegas. Demo dan razia gula illegal terpaksa kami lakukan sebagai shock theraphy, agar apatisme yang membungkus kesadaran tanggung-jawab para pembuat kebijakan dan aparat hukum bisa tersingkap, sehingga para petani dapat terlindungi%u201D (win5)

Komentar