Indonesia kejar jadi produsen kopi terbesar Asia Tenggara

Menteri Perdagangan Gita Wiryawan tengah mendapat penjelasan di PT Aneka Coffee Industry. Indonesia menargetkan jadi produsen terbesar kopi di Asia Tenggara.

Kini di posisi ketiga pasca Brazil dan Vietnam

SIDOARJO (WIN): Pemerintah Indonesia sangat serius untuk mengembalikan kejayaan produksi kopi nasional menjadi produsen terbesar dunia, namun untuk jangka menengah-pendek ditargetkan menjadi produsen terbesar skala Asia Tenggara.

“Pemerintah sangat serius untuk sektor perkebunan, khususnya kopi. Karena kopi Indonesia sangat terkenal memiliki cita rasa berkualitas tinggi. Produksi kopi nasional mesti ditingkatkan secara signifikan bahkan untuk jangka menengah-pendek bisa menjadi produsen terbesar Asia Tenggara. Jadi tidak boleh kalah dengan Vietnam,” kata Gita Wiryawan, Menteri Perdagangan saat meninjau pabrik Aneka Coffee Industry di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, Selasa, (19/3/13).

Untuk menjadi penguasa penghasil kopi Asia Tenggara, kata Gita, mesti banyak yang harus dilakukan mulai sektor hulu berupa proses perkebunannya maupun hilir khususnya industri.

“Target itu tidak berlebihan, saat ini produksi kopi Vietnam mencapai 1,2 juta ton per tahun, sedangkan Indonesia baru 609.000 ton per tahun. Untuk itu mesti memacu produksi dengan cara ekstensifikasi lahan berupa pembukaan lahan baru agar luasan lahan kopi Indonesia naik yang equivalent dengan penambahan produksi,” katanya.

Selain itu, kata Gita, produksi kopi untuk sektor hulu perlu menggunakan pendekatan teknologi tinggi agar proses panen maupun pengolahan pasca panen dapat maksimal.

“Untuk meraih target sebagai yang terdepan di Asia Tenggara pada soal produksi kopi maka perlu langkah pembicaraan lintas pemangku kepentingan sektor hulu-hilir agar proses pencapaian target bisa terlaksana secepatnya,” ujarnya.

Ketua Gabungan Eksportir Kopi Indonesia Hutama Sugandhi mengakui hingga saat ini Indonesia merupakan produsen nomor tiga dunia setelah Brazil dan Vietnam.

“Di tingkat dunia, Indonesia urutan ketiga dan untuk Asia Tenggara urutan kedua pasca Vietnam. Potensi lahan sangat kontradiktif, karena potensi lahan di Indonesia lebih besar dibandingkan Vietnam. Langkah ekstensifikasi dengan pembukaan lahan baru bagi produksi kopi menjadi yang utama,” kata Gandhi pada kesempatan sama.

Gandhi mengungkapkan Indonesia sangat mungkin menjadi produsen kopi nomor satu dunia dengan potensi lahan yang masih terbuka.

“Jadi tidak hanya untuk menjadi nomor wahid di Asia Tenggara, namun harus bisa menjadi nomor satu dunia. Ini dukungan semua pihak,” ungkapnya.

Gandhi menjelaskan lahan kopi Indonesia saat ini seluas 1,1 juta hektare yang ditanam.

“Luasan lahan masih belum optimal, kondisi ini disusul dengan tingkat produktivitasnya yang relatif rendah yang mencapai 700-800 kg per hektare. Produktivitas kopi Vietnam bisa sampai 3 ton per hektare, dengan luasan lahan Vietnam hanya 550.000 hektare. Artinya idealnya Indonesia bisa memiliki luasan lahan lebih besar lagi dengan tingkat produktivitas 1,5 ton per hektare,” ujarnya.

Faktanya varietas Kopi Indonesia sangat dikenal dunia, bahkan dari 10 varietas kopi terbaik dunia, lima varietas merupakan jenis kopi yang dikembangkan di Indonesia.

“Ini merupakan keunggulan lainnya yang bisa memperkuat langkah menjadi produsen kopi terbesar dunia,” ungkapnya. Dukungan perbankan serta pemerintah dibutuhkan agar upaya menjadi yang terbesar dalam hal produsen kopi bisa tercapai. (win7)

Komentar